Dia menekankan, perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, tujuan utama puasa itu untuk meningkatkan takwa, baik penigkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif. Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketaqwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah danenjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama.
Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, hubungan atau relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik. Menebar kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta. Maka berbagai urusan apapun itu jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Oleh karenanya, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan danย meningkat derajat kemuliaannya.
Haedar juga berpesan supaya Puasa Ramadan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.
โDalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuanย yang kian tinggi dan mrnebarย segala kebaikan yang makin luas,โ pesan Haedar.
Puasa Ramadan diharapkanย menjaga dan memperbaiki akhlak harian serta akhlak publik seorang muslim. Muaranya puasa menjadi wahanaย perbaikan karakter dan krmampuan kaum muslim untuk menjadi umat terbaik.
Menurutnya, jika umat Islam masih begini-begini saja, yakni tidak naik kelas menjadi umat terbaik, maka kejayaan, martabat, dan perlombaan untuk menciptakan peradaban maju sulit dimenangkan.
Umat Islam juga tidak boleh menjadi fatalis, hanya menyerah pada nasib, khususnya dalam konteks ekonomi yang hematnya masih memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk bisa setara dengan peradaban yang lain.
โMeraih kualitas hidup umat Islan terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukanย kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,โ tuturnya.
โDalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,โ ungkapnya.
Haedar mengingatkan, bahwa puasa tak sebatas menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar.
Terlebih, di era media sosial yang selalu memancing hasrat muslim untuk melampiaskan amarah, kebencian, dan perselisihan maka puasa seharusnya menjadi tameng untuk menangkal dan menahan hawa nafsu agar tidak lepas diri.
โDengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,โ katanya.
Seorang muslim yang menjalankan puasa harus pandai-pandai menempatkan diri, sebagai agen yang menebar damai dan kebaikan sekaligus menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat.
Terakhir, Haedar berpesan supaya puasa Ramadan menjadi waktu untuk mencapai kemajuan hidup, hal ini selaras dengan substansi dari takwa yang ingin diraih setiap muslim yang berpuasa agar meraih segala keutamaan hidup di atas fondasi tauhid.
โTakwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,โ pungkasnya, seperti dikutip dari parlementaria.com, Selasa [17/2/2026] malam.
___________
Sumber : situs berita website Muhammadiyah,
Copyright ยฉ2025 JMM-Justicia Multimedia|oposisi.info. Seluruh hak cipta dilindungi Undang-Undang



