Hukum Kausalitas dan Hukum Kebenaran Baru

Saprudin Muhamad Suhaemi | Human rights defenders

” Faktanya, sangat sulit di zaman sekarang ini untuk hidup tetap berpegang teguh pada prinsip idealisme, sehingga cenderung dikesampingkan hukum, logika dan kebenaran menurut akal sehat. Ketika media sosial yang disebut-sebut dunia maya telah bergesaer pada realitas faktanya kini telah menjadi dunia nyata. Sehingga menimbulkan implikasi kebenaran relativitas sekarang ini tidak lagi didasarkan pada fakta keadaannya, tapi didasarkan pada bagaimana menurut presepsi orang banyak …..


Ketika orang-orang dalam suasana eforia dalam rasa penuh kebanggaan. Penghargaan telah diberikan dan diterima atas status legalitas formalitaas. Walau mungkin kenyataannya sangat jauh dari kwalitas faktual. Penghargaan dan pengakuan terhadap kwalitas formalitas itu kemudian merubah situasi sulit menjadi kemudahan untuk mengisi ruang gerak aktivitas dan mendapat kemudahan fasilitas yang disediakan penyelenggara kepentingan propaganda. Propaganda diperlukan untuk menyulap situasi dan kondisi yang pada dasarnya amat buruk agar tampak menjadi baik pada presepsi publik, misalnya, pembentukan presepsi keberhasialan pembangunan infrastruktur yang didasarkan pada tersebarnya informasi fiktif yang masif di media massa. Bukan keberhasilan pada realitas sebenarnya di lapangan.

Di satu sisi ada kehidupan realitas normal, masih ada orang yang memilih jalan hidup yang sunyi, menekuni secara normatif apa yang telah digariskan untuknya. Meski sunyi dari pujian dan pengakuan orang-orang, tidak adanya pengakuan bahkan penghargaan dari orang-orang, teman sejawat, profesi, pejabat yang menjadi mitra kerja atau ucapan selamat atas keberhasilan kinerja, sama seklai tidak masalah, jalan itu tetap dipilih untuk ditekuni. Karena sesungguhnya jalan sunyi itu diyakininya sebagai jalan yang membawa selamat untuk diri sendiri dalàm menjalankan profesinya.

Kehidupan sunyi dalam gemuruh hiruk pikuk kehidupan duniawi sebab memegang teguh prinsip hidup, kebenaran dan perjuangan memelihara keadilan adalah hal yang langka di masa sekarang ini. Meski mungkin ada, tentu pelakunya adalah hanya orang aneh, karena tifikal orang yang berbeda dari kebiasaan orang-orang yang hidup ditengah budaya masyarakat kontemporer ini (budaya masyarakat modern). Disebut jalan hidup sunyi karena mungkin tidak akan ada yang memberikan lebel manusia luar biasa, terlebih orang istimewa, yang ada mungkin hanya sebutan ‘dia orang sinting’.

 

Bacaan Lainnya
banner 728x90

 

Sungguh suatu hal yang sulit di zaman sekarang ini untuk tetap berpegang teguh pada prinsip idealisme, sehingga umumnya orang cenderung menganut gaya hidup pragmatis. Adalah jalan hidup yang mudah-mudah saja, serba instan, ekspres, orientasi pada tolak ukur pencapain keberhasilannya secara material. Lebih simpelnya disebut gaya hidup materialistik. Gaya hidup yang cenderung mengesampingkan aspek spiritualitas, logika dan kebenaran menurut akal sehat. Hal itu karena pengaruh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tanpa dilandasi iman dan takwa (Imtak).

Pada sisi lain, kita dapat melihat fenomena perkembangan kehidupan budaya masyarakat kontemporer. Peran dan fungsi media sosial atau medsos yang semula disebut-sebut hanya ‘dunia maya, kini telah mengalami pergeseran nilai eksistensinya yang telah memasuki pada realitas fakta sudah menjadi dunia nyata. Menimbulkan implikasi lain dalam tatanan nilai sosial budaya masyarakat kontemporer itu sendiri. Imlikasinya, bahwa kebenaran relativitas sekarang ini tidak lagi didasarkan pada fakta keadaannya, tapi didasarkan pada bagaimana menurut presepsi orang banyak, atau tranding topik yang viral di media sosial saat ini. Sehingga timbul hukum kausalitas (hukum sebab akibat) baru ‘No Viral No Justice’ (tidak viral tidak ada keadilan). Tidak dapat disangkal, ini adalah bentuk hukum sebab akibat yang baru. Bentuk hukum kebenaran yang baru, hal mana kebenaran didasarkan pada presepsi orang banyak, bukan didasarkan pada realitas fakta keadaannya yang sejati.

Sementara tantangan menjadi semakin berat bagi para mujahid (pejuang) prinsip kebenaran dan keadilan. Keadaannya seperti orang menggenggam bara api di tengah tumpukan limbah kertas, daun-daun dan ranting-ranting kering pada musim kemarau (material yang sangat mudah terbakar). Bara api jika harus digenggam terus, ia merasa tidak mampu menahan panasnya yang membakar. Tapi, jika bara api dilepaskan tentu akan menyebabkan kebakaran dan bencana besar bagi lingkungan sekitar. Maka tidak ada pilihan lain, untuk menghindari kemadharatan yang lebih besar seseorang pejuang itu harus terus menggenggam bara api, genggam terus sampai bara api benar-benar padam dalam genggaman tangan. Jangan sampai dilepaskan selagi bara api itu masih menyala. Biarlah tangan menjadi lepuh terbakar dan tahan saja rasa panasnya. Bertahan sekuat daya karena demi untuk menyelamatkan lingkunan supaya tidak terjadi kebakaran yang merusak.

Begitulah idealisme kehidupan yang sunyi dalam gemerlap dan gemuruh kehidupan dunia modern yang akan berguna untuk keselamatan dan kelestarian lingkungan. Supaya terselamatkan orang banyak dan lingkungan sekitar prinsip kebenaran masih harus dipegang teguh, perjuangan keadilan harus masih terus dijalankan. Menahan panas dan hati rela ketika tangan menjadi lepuh terbakar, begitulah gambaran dari bentuk perjuangan realistis dalam berpegang teguh pada prinsip hidup. Demi untuk memberikan jawaban yang nyata, bahwa masih ada orang-orang baik, masih ada kebenaran yang relevan dengan rasa keadilan dan norma-norma moralitas, sehingga keadilan masih layak diperjuangkan di tengah budaya masyarakat kontemporer yang pragmatis dan hedonis.[]


Kp. Akasia Bungurdua Cibingbin. Minggu (25/5/2025)
Saprudin Muhamad Suhaemi

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *