Ibrahim Bin Adham, Menanggalkan Tahta Kerajaan Kemudian Larut dalam Kehidupan Supisme

Foto ilustrasi Raja Ibrahim Bin Adham
SAPRUDIN MS –
Kisah kehidupan Tokoh Supi Ibrahim Bin Adham
_________

Pada abad kedua Hijriyah, seorang ahli tasawuf lahir dari generasi tabiin. Dialah Syaikh Ibrahim bin Adham (718-782). Baginya, tarekat lebih utama daripada takhta. Sang salik lahir di tengah komunitas Arab Kota Balkh, daerah Khurasan timur (kini bagian dari Afghanistan).

Menurut Imam Bukhari (810-870), sufi tersebut masih keturunan sahabat Rasulullah SAW, Al-Faruq Umar bin Khattab (584-644). Sepanjang hayatnya, sang syaikh telah berkelana ke banyak kota, termasuk Baitul Makdis. Ia wafat dalam usia kira-kira 64 tahun.

Dikisahkan, Ibrahim bin Adham pernah menjadi raja atau anak seorang raja Khurasan sebelum mendalami tasawuf. N Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East (2002) mengungkapkan, orang pertama yang menyematkan status raja kepada sufi tersebut ialah Ibnu Husein al-Sulami. Bahkan, sarjana Muslim dari abad ke-10 Masehi itu menyatakan, Syaikh Ibrahim pernah berjumpa dengan Nabi Khidir AS sehingga dirinya bertobat.

Rupanya bukan hanya Ibrahim bin Adham, sufi yang berlatar belakang ningrat. Imam Ibnul Jauzi dalam buku “Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin” menyampaikan kisah seorang gubernur, sahabat Ibrahim bin Adham, yang akhirnya meninggalkan jabatannya memilih menjadi sufi.

Ini adalah kisah yang disampaikan Ibrahim bin Basyar. Berikut kisahnya:

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Pada suatu hari saya berjalan bersama Ibrahim bin Adham di padang pasir. Hingga akhirnya kami mendapati satu kubur yang diberi tanda. Di tempat itu, Ibrahim bin Adham mendoakan penghuni kubur dan menangis.

Saya pun bertanya kepadanya, “Kubur siapa ini?”

Ia menjawab, “Ini adalah kubur Humaid bin Jabir, gubernur kota ini. Dia adalah orang yang tenggelam dalam lautan dunia. Kemudian Allah SWT mengeluarkannya darinya, dan menyelamatkannya.

Saya mendengar bahwa suatu hari dia bersenang-senang dengan kenikmatan kerajaannya dan dunianya serta fitnahnya, selanjutnya dia tertidur di tempat hiburannya itu bersama orang-orang terdekat dari keluarganya.

Dalam tidurnya dia bermimpi melihat seseorang yang sedang memegang buku, kemudian dia memberikan buku itu kepadanya, dan dia pun membukanya.

Buku itu tertulis dengan huruf emas, sebagai berikut: Janganlah mementingkan sesuatu yang fana dibandingkan yang kekal, janganlah engkau tertipu dengan kerajaanmu, kedudukanmu, kekuasaanmu, banyaknya pembantumu, hamba-hamba sahayamu, dan kenikmatan syahwatmu. Karena yang engkau rasakan itu memang terasa nyata, padahal hakikatnya adalah fatamorgana.

Benar dia adalah kerajaan, namun setelahnya adalah kebinasaan. Dia adalah kegembiraan dan kebahagiaan, namun dia hanyalah permainan dan tipu daya, dia adalah satu hari jika memang dia terikat dengan hari esok. Karena itu, segeralah kembali kepada perintah Allah. Karena Allah berfirman:

Dan bersegeralah engkau kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertakwa.” ( QS Ali Imran : 133)

Maka, sang raja pun tersentak kaget. Dia berkata, ini adalah peringatan dari Allah SWT, dan nasihat. Lalu, dia segera meninggalkan kekuasaannya tanpa diketahui orang-orang. Selanjutnya, dia naik ke gunung ini dan beribadah di sini.

Saat saya mendengar kisahnya, saya pun mendatanginya dan menanyakan keadaannya. Dia pun menceritakan kepadaku tentang awal perjalanan ibadahnya. Saya pun bercerita kepadanya tentang awal perjalanan ibadahku. Dan saya sering mengunjunginya, hingga dia meninggal dunia. Kemudian dia dikuburkan di sini. Dan ini adalah kuburnya, semoga Allah merahmatinya.”

 

Cerita Hikmah

Suatu ketika Ibrahim bin Adham berada di tengah padang, manakala seorang serdadu tiba-tiba menghampirinya. “Di mana kampung paling ramai?” tanya serdadu itu setengah membentak Ibrahim, wali sufi yang pernah menjadi raja, mengarahkan telunjuknya ke pekuburan.

Serdadu itu marah dan meninju kepalanya. Awalnya ia akan membawa Ibrahim ke markasnya, sebagaimana kebiasaan serdadu, namun dilepasnya. Saat itu datang seseorang yang kontan terkejut dengan kelakuan serdadu itu. “Hai, tahukah yang kau hajar ini Ibrahim bin Adham, guru sufi dari Khurasan?”

Serdadu itu terkejut, takut, dan meminta maaf. “Ketika pukulanmu mendarat di kepalaku,” kata Ibrahim,”Aku berdoa agar Allah Ta’ala memasukanmu ke surga.” “Mengapa Guru?” tanya Si Serdadu. “Karena aku tahu, aku bakal dapat pahala lantaran pukulan pukulanmu. Aku tidak ingin nasibku menjadi  baik karena kerugianmu, atau perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.”

****

Suatu ketika Ibrahim bin Adham ditanya apakah yang paling membuatnya senang selama hidup? Ibrahim menjawab, dua kali setidaknya ia pernah merasakan hal yang membuatnya sangat senang.“Yang pertama,” kata dia,”Sewaktu aku tengah duduk-duduk, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang langsung mengencingiku. Yang kedua, juga ketika aku tengah enak-enaknya duduk, datang seorang laki-laki lain yang entah mengapa langsung menempelengku.”

****

Saat beredar kabar bahwa Ibrahim bin Adham tengah dalam perjalanan menuju Mekkah guna melakukan ibadah haji, orang-orang Mekkah; para pemimpin, ulama dan rakyat banyak, bersama-sama berkumpul di pinggir jalan untuk menunggunya. Sayang, tak satu pun di antara mereka yang tahu wajahnya.

Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang Kota Mekkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengenal Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang terkenal itu?”

“Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim balik bertanya.

Mendapat jawaban yang tidak sopan seperti itu, orang tersebut lantas memukul Ibrahim, dan menyeretnya menghadap pemimpin Mekkah.

Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulut Ibrahim tetap sama, “Untuk apa kalian menanyakan ahli bid’ah itu?”

Ibrahim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Padahal dia sendiri ulama yang dianggap agung itu. Namun dalam hatinya Ibrahim bersyukur diperlakukan demikian. Katanya dalam hati, ”Ibrahim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu perlakuanmu yang sewenang-wenang ketika berkuasa dulu,”.

****

Saat tengah menjahit jubahnya yang lusuh di tepi sebuah sungai, tiba-tiba saja jarum yang dipergunakan wali sufi Ibrahim bin Adham jatuh ke dalam sungai tersebut. Tak lama, belum sampai satu menit, seseorang menghampiri Ibrahim dan bertanya, ”Untuk menjadi orang baik, engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang megah di Balkh, sekarang apakah yang engkau peroleh sebagai imbalannya?”

Ibrahim tersenyum mendengar pertanyaan yang menyindirnya tersebut. Ia mengarahkan telunjuknya ke dalam sungai tempat jarum jahitnya tenggelam.

Ibrahim berseru, “Tolong kembalikan jarumku.” Tak berapa lama tiba segerombolan besar ikan pun mendongakkan kepala ke permukaan air. Setiap ikan membawa sebuah jarum emas di mulutnya.

Melihat kejadian tersebut, orang yang baru datang itu pun terheran-heran.

“Yang aku inginkan adalah jarumku yang tadi,” seru Ibrahim. Datanglah seekor ikan kecil mengantarkan jarum jahit Ibrahim yang jatuh.

“Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang aku terima karena meninggalkan Kerajaan Balkh. Yang lainnya, tak perlu kau ketahui,” kata Ibrahim.

[Dikutip dari beberapa sumber artikel Islami]

___________

Sunber Rujukan:

1. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi.

2. Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East (2002) – N Hanif.

3. Hilyat al-Awliya – Abu Nu’am Al-Asbahani.

4. Sifat as-Shafwah – Imam Ibn Al-Jawzi.

5. Tadhkirat al-Awliya – Fariduddin Attar.

6. Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin – Imam Ibn Al-Jauzi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *