Ada sebagian orang yang mungkin baru belajar agama dari majelis yang diikutinya, atau bahkan dari web link kajian medsos, setiap masalah ditanyakan dalil dan ditananyakan sanad, mengetahui dalil seolah dia mengusai berbagai fan ilmu, hasil dari hal tersebut mengakibatkan sikap rigidnya (kaku, keras) dalam memahami ibadah.
Pokoknya semuanya harus sesuai dengan apa yang Rasulullah contohkan, dan kita harus “konsisten mengikuti ajaran Rasulullah”. Baginya hanya ada satu kebenaran, yaitu yang sesuai dengan contoh dari Nabi.
Ditanyakan seorang yang faham tentang hukum fikih ibadah amaliah kepadanya: “Apa yang harus kita baca di saat kita ruku’ dan sujud dalam sholat?”.
Sebelum dia menjawab, seorang yang bertanya itu menyodorkan keterangan perbedaan bacaan yang dilakukan oleh Nabi dari Hudzaifah RA.
Hadis pertama menceritakan bahwa Nabi membaca :
“Subhana Rabbiyal A’zim” ketika ruku’ dan “Subhana Rabbiyal A’la” ketika sujud.
(HR An-Nasa’i).

Akan tetapi Aisyah RA meriwayatkan hadis lain dalam riwayat Muslim, Abi Dawud, Nasa’i. Dalam hadis ini, diriwayatkan bahwa Rasul membaca :
“Subbuhun quddussun rabul malaikati war ruh” baik ketika ruku’ maupun ketika sujud. Yang menarik, ternyata Aisyah meriwayatkan pula bahwa Rasul membaca teks lain : “Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummafighrli”
(HR. Bukhari).
Orang tersebut mulai kebingungan, yang mana yang sesuai dengan sunnah Nabi dan yang mana yang bid’ah?
Beranikah kita bilang Huzaifah berbohong?
Beranikah kita bilang bahwa Siti Aisyah, istri Nabi, lupa teks mana yang sebenarnya dibaca Nabi?
Bagaimana mungkin dari satu perawi (Aisyah) terdapat dua teks yang berbeda?
Lantas di mana konsistensi bacaan Nabi?
Contoh berikutnya, ada Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa ketika Nabi mengakhiri sholat dengan menoleh ke kanan beliau membaca : “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” dan ketika menoleh ke kiri membaca salam “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi” (tanpa “wa barakatuh”). Hadis lain meriwayatkan bahwa baik ke kanan maupun ke kiri, Nabi menolehkan mukanya sambil membaca salam tanpa “wa barakatuh”
(HR Tirmizi, Ahmad, Nasa’i)
Yang mengejutkan, Sunan Abi Dawud, juga meriwayatkan tanpa “wa barakatuh“, padahal pada hadis lain dia meriwayatkan dengan “wa barakatuh“.
Sekali lagi, yang mana yang benar?
Kenapa pula Abu Dawud mencatat dua hadis berbeda ini dalam kitabnya?
Yang mana yang bid’ah dan yang mana yang sunnah?
Mungkinkah kebenaran itu tidak satu tetapi berwajah banyak?
Mungkinkah yang kita anggap bid’ah selama ini ternyata juga dipraktekan oleh Nabi?
Perdebatan akan status hadis-hadis di atas memicu pertanyaan: “Kenapa Nabi tidak konsisten hanya membaca satu bacaan saja saat ruku’, sujud dan salam?
Apa mungkin semua bacaan itu benar?
Kalau iya, apakah berarti kebenaran itu tidak cuma satu tapi beraneka ragam?
Hikmah yang tersirat, jika hanya sekedar melihat perbuatan seseorang dengan tanpa memahami maksud dan tujuannya, maka begitulah jadinya.
Dikisahkan, ada seorang yang ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari si Fulan. Si Fulan bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Orang itu pun bersedia menemani Fulan dan melihat perilakunya.
Pada waktu malam yang dingin si Fulan menggosok kayu untuk menyalakan api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.
“Mengapa api itu kau tiup?” tanya orang yang hendak berguru kebijaksanaan.
“Agar lebih panas dan lebih besar apinya,” jawab si Fulan.
Setelah apinya besar, Fulan memasak soup, soup menjadi panas. Fulan menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya yang panas.
“Mengapa sop itu kau tiup?” tanya orang itu lagi.
“Agar lebih dingin dan enak disantapnya,” jawab Fulan.
“Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus orang itu sambil berjalan keluar rumah, “Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu.”
Ahaa, lagi-lagi konsistensi pokok masalahnya yang membuat urung belajar ilmu kebijaksanaan kepada Fulan.
Mungkin sudah waktunya kita mengurangi perdebatan tentang teknis beribadah dan harus mulai merenungi bagaimana shalat kita lewat gerakan dan bacaan ruku’, sujud dan salam bisa melesat mi’raj ke sisi-Nya. Konsistensi itu bukan semata pada gerakan dan bacaan tapi pada tujuan kita beribadah.
“Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Ya Allah hanya Engkaulah yang hamba maksud, Ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu).
Pada tulisan ini memang hanya dikemukakan beragam riwayat hadis, kalau ditanya dari sisi mazhab fiqh dalam soal ini, tentu akan lebih panjang lagi bahasannya.
Tapi kiranya dapat disampaikan ringkaskan dari kitab Bidayatul Mujtahid :
“Para ulama berbeda pendapat apakah yang dibaca oleh orang yang shalat dalam ruju’ dan sujud itu ada bacaan tertentu atau tidak.
Menurut Imam Malik, tidak ada bacaan tertentu (yang disyariatkan) dalam ruku’ dan sujud.
Menurut Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan ulama lainnya, dalam ruku’ orang yang shalat membaca “subhana rabbiyal azhim” 3x dan dalam sujud membaca “subhana rabbiyal a’la” juga 3x, berdasarkan keterangan dalam hadis riwayat Uqbah bin Amir”.
(Bidayatul Mujtahid).
والله اعلم
_____________





