DPMPD Pandeglang Berupaya Menekan Prevalensi Stunting

JMM NEWS, Pandeglang – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabuparen Pandeglang sedang berupaya menekan angka prevalensi stunting dengan meningkatkan kapasitas Kader Pembangunan Manusia (KPM) se Kabupaten Pandeglang yang diselenggarakan di Hotel Rizki Pandeglang. dengan menghadirkan narasumber dari TTPS Kabupaten. senin (26/08/2024)

Bidang kelembagaan DPMPD Kabupaten Pandeglang Achmad Taupiq,  kepada wartawan mengatakan, dari 326 Desa dibagi dua wilayah (kegiatan, Ed.). separuh bertempat di wilayah Carita sedangkan Separuh lagi di Pandeglang, tepatnya di Hotel Rizki.

Taupiq mengatakan, “acara ini bertujuan untuk menekan angka Prevalensi stunting dengan meningkatkan kapasitas Kader Pembanggunan Manusia (KPM) se- Kabupaten Pandeglang,” tegasnya.

Ditempat terpisah Kapala DPMPD Kabupaten Pandeglang Muslim Taupiq, menambahkan dengan diadakanya kegiatan ini diharapkan Kader Pembangunan Manusia lebih meningkat kapasitasnya serta mumpuni dalam berupaya menekan angka prevalensi stunting.

“ini merupakan program strategis nasional yang dikembangkan kepada desa untuk bisa menurunkan angka stunting,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD), Muslim Taufiq dalam kegiatan peningkatan kapasitas kader KPM di Pandeglang.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam kegiatan KPM ini disampaikan beberapa materi yang berkaitan dengan tugas pokok KPM serta permasalahan-permasalahan stunting yang ada di desa.

“Mereka mengkoordinasikan dengan kader posayandu, bidan desa, mereka juga akan menginput ke aplikasi Electronic Human Development Worker (e-HDW),” katanya.

Menurutnya, e-HDW ini akan mendukung dalam pengambilan kebijakan tentang penanganan anak stunting maupun resiko keluarga stunting.

“e-HDW untuk membantu melakukan perencanaan, pelaksanaan, serta pengendalian terhadap pelaksanaan program konvergensi stunting di tingkat desa,” ucap dia.

 

Prevalensi adalah proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam dunia kedokteran, karakteristik yang dimaksud meliputi penyakit atau faktor risiko. Prevalensi umumnya ditentukan dengan cara memilih sampel secara acak (kelompok kecil) dari seluruh populasi, dengan tujuan sampel yang dipilih dapat mewakili populasi. Untuk sampel representatif yang sederhana, prevalensi adalah jumlah orang dalam sampel dengan karakteristik tertentu, dibagi dengan jumlah total orang dalam sampel. Saat sampel (bukan seluruh populasi) yang digunakan untuk menghasilkan perkiraan prevalensi, bobot statistik dapat diterapkan untuk menyesuaikan karakteristik sampel dengan populasi target.

Prevalensi biasanya dinyatakan sebagai persentase (5%, atau 5 orang dari 100), atau sebagai jumlah kasus per 10.000 atau per 100.000 orang, tergantung seberapa besar penyakit atau faktor risiko yang terjadi dalam populasi. Ada beberapa cara untuk mengukur dan melaporkan prevalensi yang bervariasi sesuai dengan kerangka waktu untuk estimasi. Cara pertama adalah prevalensi titik, yaitu proporsi populasi yang memiliki karakteristik pada titik waktu tertentu. Cara kedua adalah periode prevalensi yaitu proporsi populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam periode waktu tertentu. Jangka waktu 12 bulan merupakapan periode yang umum digunakan. Cara ketiga adalah prevalensi seumur hidup, yaitu proporsi populasi yang memiliki karakteristik tertentu hingga seumur hidupnya.

Prevalensi berbeda dengan insiden, insiden berhubungan dengan kasus baru yang mengacu pada frekuensi perkembangan penyakit yang baru dalam suatu populasi dalam periode waktu tertentu, biasanya dalam satu tahun. Sedangkan prevalensi adalah kasus baru dan kasus lama yang mengacu pada jumlah orang yang menderita penyakit pada tahun tertentu. Jumlah ini termasuk semua orang yang mungkin telah didiagnosis pada tahun sebelumnya, serta pada tahun berjalan.

(Rah/mim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *