Jauhi Riya dalam Segala Amalan Ketaatan Beribadah

H Fatoni Anwar, Mataram, NTB.

Apa dan Bagaimanakah Riya? 

Di antara perkara yang merusak ibadah seseorang, adalah apa yang dinamakan dengan syirik kecil, yaitu riya’. Riya’ adalah berbuat ketaatan atau ibadah dengan tujuan mencari kedudukan di sisi manusia, entah itu pujian, sanjungan, popularitas atau tujuan duniawi yang lain. Orang yang berbuat riya’, adalah orang yang merugi, karena dia berbuat ketaatan, bukan karena Tuhan Penciptanya, Tuhan pemilik sorga, pemberinya pahala, dan Penentu masa depannya di Akhirat.

Orang yang berbuat riya’, beramal untuk manusia yang lemah seperti dia, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki surga, tidak bisa memberi pahala, hanya bisa memberi pujian dan sanjungan, maka itulah yang bisa didapatkan oleh yang berbuat riya’ dari sesama manusia, dan di akhirat nanti, tidak ada pahala yang ia dapatkan, bahkan sebaliknya akan mendapatakan siksa, lantaran telah berbuat ketidak jujuran di dalam penghambaannya kepada Tuhan Penciptanya.

Imam Muslim Meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Orang yang pertama diadili pada hari kiyamat adalah tiga orang, pertama seorang yang mati syahid, dia akan didatangkan pada hari kiamat, Allah memperkenalkan kepadanya nikmat- nikmat yang Allah berikan kepadanya, diapun mengakuinya, kemudian Allah berfirman: “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu”, dia menjwab “Saya telah berperang, sampai saya mati syahid, karena rido-Mu”. Allah SWT berfirman : “Engkau bohong, engkau berperang supaya dikatakan orang bahwa engkau sebagai seorang yang pemberani”, dan itu sudah dikatakan orang, kemudian dia diseret hingga dibuang ke Neraka.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Orang yang kedua adalah orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya, dan pandai membaca al-Qur’an, dia akan didatangan pada hari kiamat, Allah SWT memperkenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya kepadanya, diapun mengakuinya, kemudian Allah SWT berfirman : “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu,” dia menjawab : “Saya telah belajar dan mengajarkan ilmu, dan juga membaca Al-qur’an karena rido-Mu”, Allah berfirman : “Engkau bohong engkau belajar supaya dikatakan orang Alim, engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan Qori’, dan itu sudah dikatakan orang, kemudian dia diseret hingga dibuang ke Neraka.

Orang yang ketiga adalah orang yang Allah berikan untuknya keluasan dalam rizki, Allah telah memberikan kepadanya berbagai jenis harta, dia akan didatangkan pada hari kiamat, Allah memperkenalkan kepadanya nikmat- nikmat-Nya kepadanya, diapun mengakuinya, kemudian Allah SWT berfirman : “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu”, dia menjawab : “Tidak ada jalan kebaikan yang Engkau suka untuk diinfakkan padanya, kecuali saya telah berinfaq padanya karena mencari rido-Mu”, Allah SWT berfirman : “Engkau bohong, engkau berinfak supaya dikatakan sebagai orang dermawan, dan itu sudah dikatakan orang,” kemudian dia diseret hingga dibuang ke Neraka.

Imam Al-Qusyairi berkata : Ikhlas adalah menyendirikan Allah dengan tujuan dalam ketaatan, yaitu seorang bermaksud dengan ketaatannya mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan karena sesuatu yang lain, seperti berpura-pura untuk makhluq, mendapat kedudukan di depan manusia, atau suka pujian, atau yang lainnya, selain mendekatkan diri kepada Allah.

Syahwat manusia kepada pujian dan ketenaran, adalah di antara ladang yang subur bagi setan, untuk menanam tipudaya-tipudayanya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang selalu mengintrosfeksi niatnya, banyak beristigfar pada Robbnya, dan juga mengikuti pesan-pesan para ulama Robbaniyuun dalam menata dan membersihkan hati.

Syaikh Muhammad Al-Gozali, salah seorang ulama besar Al-Azhar pernah menulis : “Janganlah engkau menampilkan diri, sebelum memiliki kapasitas keilmuan, dan jangan engkau menuntut kapasitas keilmuan untuk tujuan menampilan diri”.

Imam Syafii pernah berkata, dan pekataan ini sangat terkenal dari beliau, beliau berkata :
وَدِدْتُ أَنَّ الْخَلْقَ تَعَلَّمُوْا هَذَا الْعِلْمَ، وَلَا يُنْسَبُ إِلَيَّ شَيْئٌ مِنْهُ.
“Saya ingin menusia belajar ilmu ku ini, dengan tidak ada sedikitpun darinya yang dinisbatkan kepadaku”.

Imam Ibrahim Bin Adham berkata :
مَا صَدَقَ اللهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ
Tidalah tulus kepada Allah, seorang hamba yang menyukai ketenaran.

Imam Ibnu Athoillah As-Sakandari berkata :
اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُدِيَّتِكَ
“Keinginan dirimu agar manusia mengetahui keistimewaanmu, adalah dalil ketidaktulusanmu dalam penghambaanmu”.

Imam Ibnu Majah dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sayyidina Mu’adz Bin Jabal : bahwa Rasulullah bersabda :
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِيْنَ إِذَا غَابُوْا لَمْ يُفْتَقَدُوْا، وَإِنْ حَضَرُوْا لَمْ يُدْعَوْا وَلَمْ يُعْرَفُوْا، قُلُوْبُهُمْ مَصَابِيْحُ الْهُدَى، يَخْرُجُوْنَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak kebaikannya, mereka yang bertaqwa lagi tersembunyi, mereka yang apabila mereka tidak hadir mereka tidak dicari, dan jika mereka ada mereka tidak dipanggil dan tidak dikenal, hati-hati mereka laksana lentera- lentera petunjuk, mereka gampang untuk keluar dari setiap perkara kelam dan gelap”.

Semoga kita semua dihindarkan dari memiliki sifat Riya’. Amin YA robbal Alamin

Sumber: Artikel H. Fathoni Anwar, Mataram NTB.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *