Kiprah dan Eksistensi Profesi Aktifis, Perjalanan Dua Hari Bersama Ibnu

Saprudin MS

Kapasitas Anda Apa?

Ada seorang kawan menelphon saya, dia bertanya; “Dimana mas Brow?, kami di Kecamatan Sumur mengahadiri kunjungan kerja Bupati.”  Saya menjawab; “Saya sedang di ….. melayani kepentingan kelompok warga yang bertanya tentang perkara tanah lapangan sepak bola yang dulu telah dibeli dengan iuran pemuda, tidak ada bukti data autentik, kemungkinan akan terjadi sengketa karena akan dĹigugat oleh keluarga penjual yang sudah almarhum.”

Penelephon kemudian bicara seperti mengolok-olok saya, ” Anda orang tidak gaul, tidak mengerti situasi dan kondisi, momen penting kunjungan pejabat, dan lain-lain. Dia mendiskreditkan saya dengan segudang penilaian subjektif yang (menurut saya) tidak ditunjang dengan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Kapasitas Diri Saya:

1. Secara pribadi, saya sebagai warga masyarakat biasa yang kebetulan tinggal di wilayah hukum Kabupaten Pandeglang, tidak ada alasan apapun yang mewajibkan saya untuk hadir dalam acara kunjungan Bupati di Kecamatan Sumur, Rabu 14 Februari 2018.

2. Secara Profesi, saya sebagai seorang wartawan yang Independen (mandiri) saya bebas menentukan sikap apakah saya harus melakukan peliputan atau sebaliknya menganggap kunjungan Bupati itu adalah hal yang sepele saja dan tidak ada manfaatnya sama sekali bagi saya. Tapi melayani kelompok orang yang telah meminta pendapat saya berdasarkan teori ilmu pengetahuan tentang hukum keagrariaan adalah kewajiban bagi saya. Kapasitas saya sebagai penulis buku: Pengetahuan Tentang Hukum dan Masalah Pertanahan. Mereka membutuhkan saya dan mengundang saya karena membaca buku judul tersebut, sedangkan kehadiran saya dalam acara kunjungan Bupati bukan berarti apa-apa.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Mengaitkan profesi jurnalis atau wartawan dengan kepentingan umum dan idealisme, belajar pada sejarah jurnalisme kuno yang telah ada di nusantara sejak zaman kerajaan Majapait, seorang jurnalis militan bernama Mpu Tantular, ketika ada acara kerajaan yang diiringi dengan parade pameran kebudayaan yang mencerminkan. Kemewahan, kesuburan dan kemakmuran negeri Kerajaan Adidaya (baca Majapait).

Dalam suasan pagelaran beragam kesenian dan kebudayaan serta pesta pora yang luar biasa, sang jurnalis Mpu Tantular lebih suka keluar dari acara kerajaan tersebut untuk melakukan peliputan di tempat-tempat lain, kemudian hasilnya dikemukakanlah karya jurnalistik yang ekstrim adalah kemelaratan penduduk sebagai sisi lain dari kehidupan di negri Kerajaan Majapait, suatu kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada di pinggiran kota tempat kemeriahan pesta pora para petinggi, pelayan dan rakyat kerajaan berlangsung. Pesan karya jurnalistik sang pewarta Mpu Tantular menunjukan fakta nyata bahwa masih ada kelompok warga yang hanya mampu tinggal di gubuk yang sebenarnya tidak layak huni dan hanya mampu makan nasi aking (nasi olahan dari singkong yang diawetkan semacam gaplek singkong).

Mpu Tantular yang hidup pada abad ke-14 di Majapahit adalah seorang pujangga ternama Sastra Jawa. Ia hidup pada pemerintahan raja Rājasanagara (Hayam Wuruk). Ia masih saudara sang raja yaitu keponakan (bhrātrātmaja dalam bahasa Kawi atau bahasa Sanskerta) dan menantu dari adik wanita sang raja Hayam Wuruk. Kitab sastra kuno Kakawin Sutasoma yang terkenal merupakan salah satu karyanya

Nama “Tantular” terdiri dari dua kata: tan (“tidak”) dan tular (“tular” atau “terpengaruhi”). Artinya ia orangnya ialah “teguh”. Sedangkan kata mpu merupakan gelar dan artinya adalah seorang pandai atau tukang.

Buku kumpulan pendapat hukum tentang pertanahan. Penulis: Saprudin Muhamad Suhaemi
Pengalaman Pribadi

Ketika anak saya Ibnu Arofah, bertanya kepada saya; “Mohon maaf ayah, Ibnu izin hendak bertanya pada ayah, pekerjaaan ayah sebenarnya apa dan bagaimana? Mohon maaf sekali, karena orang selalu bertanya dan Ibnu bingung menjawabnya karena tidak tahu.” (anak saya di rawat dan dibesarkan di keluarga almarhumah ibunya, kami jarang bertemu). Saya hanya bisa menjawab dengan tanpa ragu: “Ayah bekerja sebagai wartawan, setelah memutuskan tidak menjadi guru formal lagi di Madrasah Aliyah sejak belasan tahun lalu.”

Saya menyadari dan dapat menangkap sinyal dari sikap Ibnu yang tanpak hampir tak percaya, ayah bekerja sebagai wartawan!?, oh, atau entah apa yang ada di benak pikirannya. Saya pikir Ibnu sepertinya agak kecewa dan malu karena profesi ayah.

Lain waktu, saya menelophon Ibnu, ngajak jalan untuk beberapa hari dalam acara silaturahmi pada kolega ayah di banyak tempat, dan itu hanya alasan saya pada anak padahal tujuannya hendak memperkenalkan bagaimana cara bekerja sebagai Jurnalis Independen, profesional, proporsional dan hubungannya bagaimana dwngan resfon sumber atau orang-orang sebagai objek profesi yang berhubungan langsung dengan ayah.

Di perjalanan menemui ada satu insiden kecelakaan lalu lintas, situasi ramai sekali orang-orang dan banyak wartawan dari beberapa media elektronik dan cetak. Tampak kendaraan minibus jatuh ke kali dengan tanda-tanda jatuh setelah menabrak pagar beton bagian sisi jembatan, serta tampak ada korban jiwa. Saya sempat berhenti sebentar melihat dan bertanya, setelah tahu apa yang terjadi kamipun meneruskan perjalanan. Ibnu bertanya: “Ayah kan wartawan kenapa tidak meliput peristiwa itu?”. Saya menjawabnya singkat: “Kan banyak wartawan di sana,”

Setelah perjalanan dua hari, kami kembali ke rumah, dan saya menerangkan kepada Ibnu tentang pekerjaan dan mamnfaat (dampak) dari pekerjaan. Saya sangat lega karena Ibnu pun kemudian mengaku sudah mengerti dan cukup merasa bangga pada profesi ayahnya yang memiliki pengaruh malampaui pengaruhnya ketika selaku guru di Madrasah Aliyah. [*]

___________________

Sumber: Artikel Replika Saprudin MS, edisi Rabu, 14 Februari 2018. Replika Saprudin MS adalah laman Facebook yang memuat tulisan pemikiran (pilsafat) dan interpretasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *