Kisah Raja Berencana Dholim, Bertaubat Seketika Karena Perkataan Anak Belia Penjaga Kebun Delima

Oleh: Saprudin MS*

MEMBACA Tafsit “Al- Kabir Mafatihul Ghoib” karya Syeikhul Islam, Al Imam Fakhrufdin Arrozi. Mengkupas makna “Arrahmaan” yang berarti “Sipat Allah Yang Maha Pengasih” penggalan ayat 3 dalam surat ke 1: Al Fatihah dan penggalan kalimat basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim)

Termaktub dalam halaman 444 edisi aslinya bahasa Arab (semoga saja tidak salah sebut halaman karena sudah lama sekali tahun 1998 saya membacanya di Maktabah/ perpustakaan Al-Amiin, Perenduan, Sumenep, Madura), metode penulisan tafsir menurut saya luar biasa, dikemas sedemikian unik dan menarik dalam paparan cerita yang humanis.

Diceritakan, ada seorang raja yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia seorang raja yang adil bijaksana, hidup dan berkuasa di belahan dunia wilayah negara-negara Arab/Timur Tengah sekarang. Bernama Raja Abu Sirwana, raja sangat terkenal itu gemar berburu.

Pada satu waktu dalam acara perburuan kerajaan, karena raja sangat bersemangat dan terus mengejar binatang buruannya sampai terjadilah suatu insiden yang menghebohkan, dikabarkan raja hilang karena terpisah dari pasukan pengawal kerajaan.

Tapi raja berpikir lain, pasukan pengawal kerajaan yang tertinggal oleh dirinya. Lama raja menunggu,  pasukan pengawal belum datang juga menyusul.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Yang terjadi dalam kondisi saat itu, raja mencari pasukan dan pasukanpun mencari Raja yang diumumkan telah menghilang dihutan belantara (cerita dalam tafsir, kawasan Timur Tengah/wilayah negara-negara Arab yang sekarang kondisi geografisnyanya gurun pasir itu, pada zaman Raja Abu Sirwana berkuasa ada satu wilayah hutan belantara).

Tafsir Al-Kabir Mafatihul Ghoib, karya Syeikhul Islam, Al Imam Fakhruddin Arrozi.

Dalam ketersesatan perburuannya, sampailah raja pada satu kebun yang indah, saking indahnya kebun itu  menyerupai taman buah delima yang terawat dan tertata dengan rapi.

Merasa seorang raja yang berkuasa dan tidak mungkin ada yang berani melarangnya,  rajapun masuk dengan sikap jumawa membawa kebesaran perasaan sang penguasa kerajaannya.

Anehnya sudah berkeliling ke sana ke mari di kebun delima yang luas, mencari pemilik kebun, tapi raja tidak menemukan seorangangpun pekerja atau penjaganya. Dalam pikiran raja merasa ‘Aneh’.

Akhirnya setelah berkeliling mengitari kebun, raja turun dari kuda. Cuaca yang terik dan cape berburu membuat raja haus dan lapar. Kemudian datanglah seorang anak laki-laki sekira berumur antara 7 – 8 tahun, menghampiri raja.

Anak itu terpana memandang Raja dan kudanya, terkagum dengan keindahan dan kemewahan tampang kuda dan sosok pribadi sang raja yang elok rupawan. Dalam pikiran si anak itu merasa ‘aneh dihutan seperti ini ada tampang orang dan seekor kudanya yang gagah’.

Raja: “Hai anak kecil, sedang apa di sini?”
Anak: “Sedang menunggu kebun.”
Raja: “Ini kebun siapa?”
Anak: “Kebun milik ayah saya.”
Raja: “Mana ayahmu?”
Anak: “Ada di rumah, tidak ke kebun”.
Raja: “Nak boleh bapak minta buahnya, bapak tersesat, sekarang haus dan lapar, perbekalan bapak minuman dan makanan dibawa pengawal.”
Anak: “Bapak siapa, kok sampai tersesat ke kebun ini?”
Raja: “Bapak sedang berburu rusa.”

Si anak penjaga kebun memetik buah delima. Diberikan kepada raja, raja langsung saja membelahkan dengan cengkaraman kedua belah tangannya. Buah yang berkwalitas baik, keadaannya sudah sangat matang, air buah delima itu sampai bercucur di tangan raja.

Sambil posisi jongkok rajapun menikmatinya; menghisap, menyeruput air buah delima, terasa oleh raja sangat nikmat dan menyegarkan.

Dalam situasi seperti itu, timbulah dalam pikiran raja ingin menguasai dan miliki kebun. Raja berpikir pasti akan kumiliki kebun ini setelah bertemu pemkliknya akan aku beli dengan harga yang murah, kalau pemiliknya tidak mau menjual, akan aku buat peraturan kerajaan kebun-kebun delima milik kerajaan di negi ini.

Sementara memikirkan cara bagaimana menguasai dan miliki kebun delima itu, tidak disadari delima yang sedang dinikmati itu sudah habis.

Sementara si anak memandang Raja yang tampak sangat menikmati delima dan berpikir ingin menguasai kebun ayahnya, dengan tanpa tahu apa-apa tentang rencana yang dipikirkan raja untuk menguasai kebun delima milik ayahnya.

Kata raja sambil tersenyum: “Nak delimanya lezat sekali, menyegarkan, boleh bapak minta lagi?”
Anak; “Iya, tentu boleh pak.” Seraya memetik buah delima dari pohon yang sama, bahkan dahan dahan dan ranting yang sama, kualitas baik, besar dan matangnya juga sepertinya sama.

Diberikanlah kepada raja. Aneh Ketika raja belahkan buah delima pemberian yang kedua kali dari si anak penjaga kebun, tidak ada air, jangankan bercucur di tangan, setetespun tidak tampak ada airnya, hanya warnanya yang sama berona merah.

Raja berpikir “kok ga ada airnya sama sekali.” Lalu buah delima dicoba dihisap, raja terperanjat, rasanya sangat pahit, sepet, kecut bercampur dalam satu rasa dan sama sekali tidak ada airnya di dalam biji-biji, atau serat-serat buah delima itu.

Si anak merasa aneh menyaksikan tingkah laku raja yang tampak tidak senang dengan rasa buah delima yang diberikan kedua kalinya.

Anak: “Bapak kenapa?”
Raja: “Kok buah yang ini rasanya beda nak, pahit dan tidak ada airnya.”
Anak: “Sudah buang saja pak kalau tidak enak, ini saya petikan lagi buahnya.” Seraya memetik buah delima dari pohon, dahan dan ranting yang sama juga seperti yang dipetik pada pertama dan kedua kalinya.

Belum buah diberikan oleh si anak penjaga kebun, raja bertanya: “Kenapa nak rasanya buah yang kedua kali itu kok beda rasanya, padahal buahnya bagus, ga busuk?”
Anak: “Tidak tahu”

Tampak oleh raja, si anak berpikir. Hanya dalam waktu sebentar saja tampak si anak berpikir, lalu berucap: “Pak, menurut saya sebab buah delima yang kedua itu berubah rasanya, ini pertanda jangan-jangan raja di negari kita sedang berbuat dholim, sedang berencana jahat atau sedang menindas rakyatnya yang lemah,” kata si anak penjaga kebun sambil menatap muka sang raja.

Mendengar ucapan itu sungguh raja sangat kaget, mukanya berubah warna menjadi merah padam, tangan, kaki, tangan dan badannya gemetar. Raja Abu Sirwana serasa disambar petir dengan perkataan anak kecil penjaga kebun itu.

Maka raja menyadari, ‘Dia merasa telah berpikir dan berencana kotor untuk memiliki kebun delima dengan cara paksa. Raja menyesal atas niatnya yang dholim. “Mungkin ini teguran langsung dari Tuhan yang Maha Pengasih melalui ucapan anak kecil penjaga kebun, yang secara logika, dan sejatinya anak usia antara 7 – 8 tahun belum faham apa-apa tentang politik dan keadilan,” pikir raja.

Diceritakan, Raja Abu Sirwana langsung bertaubat atas pikiran dan rencana ingin menguasai kebun delima milik rakyat dengan cara paksa dan dholim itu. Situasi dan kondisinya disebutkan dalam tafsir Al Kabir: “Fataaba alihi” “Maka bertaubatlah raja atas apa yang telah dipikirkan dan direncanakannya.”

Anak: “Ini pak buahnya, semoga tidak pahit lagi.” Buah delima yang ketiga kalinya  diberikan anak penjaga kebun  diterima oleh raja, langsung dibelah dengan cengkraman kedua tangan raja yang kekar. Air buah delima kembali tampak melimpah, bercucuran di telapak tangantaja, kemudian raja menikmatinya; dihisap, diseruput,  rasanyapun sangat manis kembali sama seperti buah delima yang pertama kali diberikan.

(Cerita selesai)

Pesan Moral  yang Terkandung Dalam Cerita

1. Jika pemimpin dholim rakyat yang merasakan kesengsaraan akibat sikap dan perilaku dholimnya seorang pemimpin.

2. Jika seseorang dholim maka akibatnya berpengaruh terhadap keadaan sesuai dengan kapasitas orang tersebut memimpin. Contoh; kapasitas pribadi, curi ayam hukumnya hanya berimbas pada pribadinya, macam didenda, digebugin, dipenjara. Kepala keluarga akibatnya berimbas kepada seluruh anggota keluarga. Ketua RT pengarunya berimbas pada waraga satu RT, Kades, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, dan seterusnya.

3. Jika pemimpin berkhianat terhadap dirinya sendiri dan/atau terhadap orang lain (janji politik tidak dipenuhi) dan tidak menjunjung sipat amanah, jujur dan adil. Maka akan hilang karena diangkat oleh Allah SWT keberkahan dari harta benda/kekayaan di wilayah kekuasaan pemimpin dholim.

Salah satu tandanya diangkat kebarakahan dari muka bumi, tumbuh-tumbuhan tidak berbuah maksimal, gagal panen, padahal fasilitas cukup menunjang, tanah air yang subur makmur, kelompok-kelompok tani terus dibina dan ditunjang dengan beragam bantuan program pemerintah, tapi hasil laporannya selalu gagal panen dan puso.

Kondisi penduduk negeri yang secara statistik dan setatus sosial ekonominya telah berkecukupan dan mapan, seharusnya sudah hidup dalam tarap sejahtera. Tapi kenyataannya masih saja khawatir kekurangan, merasa lemah sampai dengan suka rela mendaftar suapaya diri/keluarganya dimasukan dalam data base keluarga miskin untuk mendapatkan beragam bantuan sosial dari pemerintah.

Kemiskinan harta dan jiwa melanda, juga kelaparanpun sering kali terjadi pada penduduk negeri yang dahulu amat tersohor sampai dijuluki oleh bangsa-bangsa Erop sebagai negeri “Swarna Dwipa” dan “Jawa Dwipa” merupakan cerminan untuk negeri yang tanah airnya subur makmur. Negeri kaya raya dengan potensi sumber daya alamnya melimpah ruah.

Maka ketahuilah, di antara yang menjadi sebab diangkatnya barokah dari muka bumi (merujuk pada tafsir Al Kabir Mafatihul Ghaib, Syeikhul Islam, Al Imam Fakhruddin Arrozi, potongan ayat 3 Surat ke 1: Al Faatihah, ‘Arrahmaan’) karena adanya pemimpin dholim, pemimpin yang berkhianat terhadap amanah. Bertaubat dan beristighfar (mohon ampunan kepada Allah SWT) dan banyak membaca shalawat atas nabi Muhammad SAW adalah jalan yang lurus, cepat dan tepat untuk sampai pada tujuan kebarakahan, kecukupan, ketentraman, ketenangan dan kekayaan lahir dan batin. [~]

Wallahu ‘alam bishowab.

*Tentang penulis: (1) Alumni Pondok Pesantren Tarbiyatul Mualimiin Al-Islamiah (TMI) Al-Amiin, tahun 1998.; (2) Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Amiin (STIDA) sekarang Institut Dirosah Islamiah Al-Amiin (IDIA) Prenduan, tahun 1998;  (3) Aktifis masyarakat, tahun 2001-sekarang; (4)Wartawan Senior, penanggung jawab, Pemimpin Redaksi Media Justicia Multimedia (JMM Group).

* Cerita dilakukan pengeditan, diselaraskan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *