Tradisi Ngaseuk Huma di Kampung Petualangan Buluh, Ada Prosesi Pungpuhunan

JMM, Pandeglang – Ngaseuk Huma atau para kelompok tani di bawah binaan penyuluh pertanian menyebutnya Gerakan Tanam (Gertam) padi Gogo, Kedelai, Kacang Tanah atau Jagung. Ngaseuk Huma di Kampung Petualangan Buluh Desa Cijaralang Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten masih berpegang teguh pada kearipan lokal budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Dalam pembukaan Festival Kampung Petualangan Buluh, acara Ngaseuk Huma dimulai dengan pragaan seorang sesepuh tokoh masyarakat melakukan praktek mistis Pungpuhunan.


Pungpuhunan, jika mencermati dari posisinya selalu ditempatkan di tengah Huma (bagian tengah ladang) dan sebagai titik permulaan menanam dan menuai buah padi (mulai panen) nantinya, maka dapat diasumsikan (secara mistis) sebagai pusar atau pusat dari Huma itu sendiri.

Pelaksanaan Ritual Pungpuhunan Huma di Kampung Petualangan Buluh dilakukan oleh sesepuh Kampung Buluh bernama Abah Parta.

Tampak media yang digunakan dalam Prosesi Pungpuhunan itu berupa 4 potongan kayu digunakan membuat tanda batas pusar/pusat Huma berupa kotak persegi empat sama sisi. Kemudian 1 kayu  ditancapkan atau di tanam di tengah Pungpuhunan, umumnya yang ditanam kayu Dadap. Disiapkan Parukuyan wadah bara api dari ruhak arang kayu untuk membakar kemenyan ahau madat.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Selanjutnya Surubuhun, adalah melakukan bisikan-bisikan, mengucapkan mantra yang diyakini sebagai cara berdialog dengan mahluk Allah di alam ghaib sana. Tujuannya menjalin hubungan lintas alam antara mahluk alam dhohir atau lahir (manusia penghuni alam fisik atau kasat mata) denga alam ghaib (mahluk jin dengan alam metafisika) supaya jangan saling mengusik dan mahluk penghuni alam ghaib semacam bangsa jin tidak merasa dilanggar/diganggu.

Karena hakekatnya, sebagai mahluk lahir manusia ditakdirkan tidak diberikan kuasa untuk melihat mahluk-mahluk gaib semacam jin. Maka melalui ritual mistis Pungpuhunan ini lah manusia wanti-wanti kepada mahluk gaib yang kemungkinan berada di lingkungan sekitar, diminta mahluk halus macam Jin menghindar supaya tidak terlanggar oleh kegiatan manusia.

Kemudian dalam Prosesi Pungpuhunan juga ditipkan supaya Huma dengan tanamannya dapat tumbuh subur tur barokah, orang yang bekerja di Huma juga senantiasa terjaga dari gangguan-gangguan mahluk halus.

Pun demikian pada masa panen nanti. Kegiatan mulai panen disebut Mipit, harus dilakukan mulai dari Pungpuhunan oleh orang yang melakukan praktek Pungpuhunan di waktu ngaseuknya. Tapi jika berhalangan dapat dilakukan oleh orang lain dengan izin dari yang melakukan Pungpuhunan terdahulu. (Red.01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *