Festival Kampung Petualangan Buluh Berorientasi Penguatan Ekonomi dan Melestarikan Kearifan Budaya Lokal

JMM, Pandeglang – Mendongkrak perekonomian masyarakat dapat dilakukan dengan mengelola sistem pertanian yang baik dan berkelanjutan. Kedua memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Demikian dikemukakan oleh Sujana, S.Sn. kepada JMM News, Jumat (15/12/2023)

“Untuk meningkatkan tarap kesejahteraan masyarak dengan penguatan ekonomi dapat dilakukan dua hal. Pertama kita harus menata kelola sistem pertanian yang baik dan berkelanjutan. Kedua kita menghidupkan UMKM sebagai sarana transaksi yang efektif,” ungkap Sujana kepada Media.

Menurut Sujana, jika dapat diatur masa tanam sekurangnya 2 kali musim panen setiap tahun. Pertama Panen padi dan kedua panen hortikultura (sayuran, kacang, kedelai, jagunn) secara otomatis akan dapat menumbuhkan aktifitas UMKM.


Hasil pertanian lokal Kampung Buluh dijual dan dibeli oleh UMKM di Kampung Buluh. Selain itu UMKM juga dapat menumbuhkan roda perekonomian keluarga dengan menyalurkan hasil produksi rumahan Home Industri.

Kemudian melestarikan kearifan budaya lokal, kata Sujana, kita harus bersatu, merasa senasib sepenanggungan. “Gotong royong adalah kearifan budaya lokal masyarakat Nusantara yang mungkin dilakukan oleh nenek moyang kita, berlangsung sejak adanya pradaban manusia,” sebut Sujana.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Pantauan media, tampak nyata dalam kegiatan Festival Kampung Petualangan Buluh bahwa kebersamaan senasib sepenanggungan itu sangat dominan dalam mensukseskan pelaksanaan festival.


Tampak ibu-ibu menyiapkan konsumsi di dapur umum, pemuda pemudinya membentuk tim kreatif-melayani tamu undangan dan menyiapkan kebutuhan teknis oprasional. Bapak-bapak semangat membangun sarana ibadah (musholah), MCK (mandi, cuci, kakus), membangun warung-warung tempat berjualan UMKM.

Warga Kampung Buluh telah mengambil perannya masing-masing sesuai dengan kapasitas kemampuan, menjadi peserta Festival, pedagang, dan penyaji hiburan.

“Pada prinsipnya kita kuat karena kita melakukan sesuatu dengan bersama-sama. Istilahnya berat dipikul bersama, ringan dijinjing bersama, sapapahit samamanis, senasib sepenanggungan. Demikian ajaran kearifan budaya lokal yang diwariskan leluhur, harus kita lestarikan sekarang,” pungkas Sujana. (Red.01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *