Memilih Pemimpin dengan Tanggung Jawab, Inilah Nasehat 5 Tokoh Dunia

Saprudin MS

Oleh: Saprudin MS.

Menghadapi tahun politik 2024 setiap warga Negara Indonesia yang memiliki hak pilih dan akan menggunakan hak pilihnya dihadapkan pada banyak pilihan Calon anggota Legislatif, Calon Anggota DPD dan Pasangan Calon Presiden – Wakil Presiden. Hasil dari pemilihan umum serentak itu otomatis menjadikan pemimpin rakyat di parlemen daerah kabupaten, provinsi dan pusat, juga Kepala dan Wakil Kepala Negara.

Perlu diingat, menentukan pilihan dalam perhelatan demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses dari tindakan sesaat saja yang dilakukan oleh setiap warga pengguna hak pilih tapi dampaknya akan berpengaruh pada situasi dan kondisi, stabilitas nasional secara komprehensif  (menyeluruh) pada berbagai bidang dan sektor.

Maka diharapkan setiap orang dapat menggunakan hak pilihnya menurut kehendak hati nurani berdasarkan pertimbangan selera politik, kesamaan dan keselarasan idiologi politik dan kepentingan nasional dalam menjalankan kesinambungan pembangunan masyarak bangsa Indonesia yang paripurna.

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Janganlah menjual belikan pilihan dengan cara disuap dengan nilai uang atau apapun yang sama sekali tidak sepadan dengan tujuan luhur kita berbangsa dan bernegara, menjalankan hak demokrasi yang diimplementasikan dalam Pemilu. Pilihan kita menentukan nasib dan masa depan bangsa dan negara. Maka memiliklah dengan tanggung jawab.

Untuk dapat menggunakan hak pilih dengan baik dan tanggung jawab (terutama) secara moralitas sebagai warga negara dan individu masyarakat bangsa yang baik, berikut 5 pesan yang dikutip dari 5 tokoh dunia;

1. Ali bin Abi Thalib R.A. Kholafah Ar-Rosyidin ke-4:
“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

2. Syaikh Yusuf Qardhawi (Ketua Asosiasi Internasional Cendekiawan Muslim): “Setidaknya ada 3 (tiga) cara dalam mempertimbangkan pilihan:

• Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya.
• Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik.
• Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya”.

3. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M. Phil. (Ketua MIUMI Pusat, putra Pendiri Pesantren Gontor):
“Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda dan jutaan yang lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.”

4. Recep Toyyib Erdogan, Presiden Turki:
“Jika orang baik tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya”.

5. Necmetti Erbakan.”
Muslim yang tidak peduli Politik akan dipimpin oleh Politikus yang tidak peduli kepada islam. Jangan tidak ikut Pemilu, kejahatan politik akan timbul tatkala orang baik semua pada diam.”

Kemudian, kewajiban kita juga untuk saling mengingatkan agar hati-hati dalam memilih Pemimpin, karena jika salam pilih pemimpin akibat  kerugiannya akan dirasakan selama pemimpin itu berkuasa.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *